Rabu, 31 Desember 2014

Catatan Akhir Tahun

Di akhir tahun 2014 ini aku memutuskan untuk meninggalkan semua kenangan pahit yang pernah aku rasakan, terutama soal cinta. Cinta yang pernah aku berikan kepada orang-orang yang aku sayang. Tapi disini lebih menjurus kepada seorang kekasih. Jujur di tahun ini ada 2 laki-laki  yang menyakitiku dengan waktu yang berbeda, dengan cara yang berbeda pula. Aku tidak bisa menceritakan secara detail, karena itu adalah privasi. Intinya cowok yang satu pernah bersamaku dalam beberapa bulan, aku kira kita bisa selamanya bersama. Dia yang perhatian, penuh kasih sayang, kadang cuek ternyata bukan takdirku. Dia menemukan wanita yang lebih baik dariku. Kata maaf selalu terucap dari bibirnya, aku yang sudah jera dan mencoba mengikhlaskannya hanya bisa memaafkannya. Tidak ada rasa dendam sedikitpun padanya dan wanita itu. Sekarang kita hidup sendiri-sendiri walau sesekali saling memberi kabar dan memberi pertolongan dalam hal tertentu. Dan yang kedua ini adalah sahabatku sejak kelas 3 SMP. Kita bertemu dalam suatu lembaga pembelajaran, bisa dibilang tempat les/bimbel. Dia laki-laki berkacamata, dia lucu, kalau ketawa sangat bebas tanpa beban. Dulu memang dia laki-laki yang selalu ada saat aku senang dan susah. Dia satu-satunya teman laki-laki yang paling care sama aku. Udah sekitar 2 tahunan kita saling kenal, tetap sebagai sahabat. Malam itu kami berbincang-bincang lewat telepon tentang kabar, sekolah, liburan sekolah sampe rencana liburan. Rasa kangen sudah 2 tahun tidak bertemu kitapun membuat rencana untuk bertemu. Saat hari H seakan firasatku mengatakan yang sesungguhnya bahwa dia menaruh hati padaku. Waktu pun terus berjalan mengiringi kita yang sedang memanjakan pikiran saat itu. Kita sangat terhibur menonton sebuah film yang saat itu juga lagi booming2 nya. Sehabis nonton kita langsung pulang karna hari sudah mulai sore, saat di perjalanan firsatku benar2 nyata. Dia mengungkapkannya dengan penuh keberanian dan percaya diri. Tapi sayang bukannya aku menolak, saat itu aku hanya ingin fokus sekolah dulu itu juga sebenarnya masih trauma sama luka lama. Tapi aku yakinkan dia bahwa setelah lulus SMA aku ingin menjadi pacarnya. Dia pun mengerti walau terlihat dari wajahnya dia sedikit kecewa. Hari itu telah berlalu, tetapi kita menjalani hari-hari bersama walau tak berstatus, aku tidak bermaksud manggantungnya. Aku mengayanginya, rasa sayang itu benar2 tumbuh setiap harinya. Kita seperti berteman rasa pacaran. Sampai sekarang aku menulis ini, aku masih menyayanginya. Dia juga masih menyayangiku. Tapi kita gak boleh memaksakan hubungan ini lagi. Karna jika begitu akan terus ada hati yang terluka. Hari ini juga aku mulai memahami cinta yang tulus belum tentu dibalas dengan hal yang sama. Tetapi cinta yang tulus akan sangat berharga dan dicari ketika cinta itu telah hilang. Setalah menulis ini aku sedikit lega, karna aku bisa berbagi kepada pembaca tentang cinta yang aku alami ini di tahun ini. Aku memang belum sepantasnya merasakan jatuh cinta. apalagi jatuh cinta pada orang yang salah. Rasanya akan sakit sekali. Berani bercinta harus berani pula menanggung resikonya, yaitu sakit hati. Maksud saya tidak untuk menakut-nakutkan para pembaca tentang cinta, bahkan cintalah energi paling dahsyat di dunia ini. Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga, begitulah kata para pujangga. Sekian... :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar